• Faceblog Evolutions

    Efek cube

  • Faceblog Evolutions

    Efek cuberandom

  • Faceblog Evolutions

    Efek block

  • Faceblog Evolutions

    Efek cubestop

  • Faceblog Evolutions

    Efek cubehide

  • Faceblog Evolutions

    Efek cube size

  • Faceblog Evolutions

    Efek horisontal

  • Faceblog Evolutions

    Efek showbars

  • Faceblog Evolutions

    Efek showbarsrandom

  • Faceblog Evolutions

    Efek tube

  • Faceblog Evolutions

    Efek fade

  • Faceblog Evolutions

    Efek fadefour

  • Faceblog Evolutions

    Efek paralell

  • Faceblog Evolutions

    Efek blind

  • Faceblog Evolutions

    Efek blindheight

  • Faceblog Evolutions

    Efek blindwidth

  • Faceblog Evolutions

    Efek directionTop

  • Faceblog Evolutions

    Efek directionBottom

  • Faceblog Evolutions

    Efek directionRight

  • Faceblog Evolutions

    Efek directionLeft

  • Faceblog Evolutions

    Efek cubeStopRandom

  • Faceblog Evolutions

    Efek cubeSpread

Sejarah Kedokteran Hewan di Indonesia

Pada abad ke-19, pemerintah Hindia Belanda merasa membutuhkan tenaga kesehatan hewan menangani Kavaleri, sapi perah dan sapi pekerja. Kemudian pada tahun 1820 mereka mendatangkan dokter hewan dari Belanda yaitu R.A. Coppreters. Pada tahun 1834, Dokter hewan korps Kavaleri mulai didatangkan secara teratur. Pada tahun 1860 dibangun Sekolah Kedokteran Hewan di Surabaya. Pendidikan berlangsung selama 2 tahun. Namun sekolah tersebut ditutup pada tahun 1975 karena kurang dukungan dari politisi dan tentara kolonial.

Pada tahun 1892 Janeman, anggota parlemen Belanda, mengusulkan pada Gubernur Jenderal Pynacker Hordyk agar mendirikannya lembaga pendidikan untuk ajun dokter hewan pribumi (Inlandsche veeartsen) di Batavia karena terjadi ledakan wabah rinderpest yang terjadi mulai tahun 1879. Namun usul tersebut mendapat tentangan dari kalangan ilmuan, birokrat dan militer colonial dikarenakan kehadiran dokter hewan pribumi dengan gaji rendah dan keterampilan yang menyamai dokter hewan eropa dikhawatirkan akan menyaingi posisi mereka di dalam pemerintahan.

Sejarah Kedokteran Hewan di Indonesia
Kemudian pada 5 Mei 1907, Profesor Melchior Treub, Direktur Pertanian, mendirikan sekolah veteriner dan sebuah laboratorium yang pendidikan di Cimanggu Kecil Bogor. Lalu Cursus tot Opleiding van Inlandsche Veeartsen dipimpin oleh Dr. L. De Blick dengan Kepala Veeartsenlkunding Laboratorium (VL) drh. De Does dan lama pendidikan selama 1 tahun. Pada tahun 1927 terjadi pemisahan NIVS dan VL. Pada Juni 1938, NIVS mendapat fasilitas baru di Kedung Halang Bogor serta memiliki asisten pengajar dari bangsa Indonesia yaitu R. Noto Soediro, Sikar, dan M. Nazar.

Perubahan terjadi lagi pada masa kependudukan Jepang (1942-1945). NIVS diubah menjadi Bogor Zyni Cakko (Sekolah Dokter Hewan Bogor) yang dipimpin perwira tentara Dari Nippon – Iwamoto. Pada 20 September 1946 didirikan Balai Perguruan Tinggi Kedokteran Hewan (BPTKH) dengan Rektor Magnifleus : Dr. Mohede

Saat Agresi Militer Belanda I (1947) menduduki Bogor. Kelas Pengungsian di Klaten diubah Fakultas Kedokteran Hewan UGM (1949). Sedangkan saat kependudukan Belanda di Bogor (1947 – 1949), kampus PTKH dan sekitarnya ditutup digunakan sebagai kamp tawanan Jepang dan RAPWI lalu Pemerintah Federal membentuk Facultet der Diergeneeskundige dari Universiteit van Indonesia. Perkembangan Pendidikan Kedokteran Hewan setelah penyerahan kedaulatan RI yaitu :

  • 1950 : Facultet Kedokteran Hewan, Universitet Indonesia (FKH - UI)
  • 1955 : Fakultas Kedokteran Hewan dan Peternakan, Universitas Indonesia (FKHP – UI)
  • 1961 : Fakultas Kedokteran Hewan, Peternakan dan Perikanan Laut, UI (FKHPPI – UI)
  • 1961 : Fakultas Kedokteran Hewan dan Peternakan, Universitas Syahkuala (FKHP – UI)
  • 1963 : Fakultas Kedokteran Hewan Institut Pertanian Bogor (FKH – IPB)
  • 1972 : Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Airlangga – Surabaya.(FKH – UNAIR) yang
    Merupakan pecahan dari Fakultas Peternakan dan Kedokteran Hewan Universitas Brawijaya. Fakultas Peternakan di UB dan FKH di UNAIR
  • 1981 : Program Studi Kedokteran Hewan Universitas Udayana – Bali (PSKH – UNUD)

Kalo tahun 2011 ini udah ada 10 Universitas yang ada FKH/PSKHnya yaitu, Universitas Syahkuala Aceh, Institut Pertanian Bogor (IPB), Universitas Gadjah Mada (UGM) Jogjakarta, Universitas Airlangga (UNAIR) Sby, Universitas Udayana Bali, Universitas Wijaya Kusuma Surabaya (UWKS), Universitas Brawijaya (UB) Malang, Universitas Nusa Tenggara Barat (UNTB), dan yang baru dibuka tahun 2010 kemaren adalah Universitas Hasanudin Makasar dan Universitas Cendana (UNDANA) NTT.
Sejarah Kedokteran Hewan Indonesia

Sejarah Singkat Pendidikan Kedokteran Hewan di Indonesia Pendidikan kedokteran hewan di Indonesia mempunyai sejarah yang panjang. Program pengembangan peternakan di zaman Belanda dahulu, terutama ternak besar, memerlukan tenaga-tenaga ahli kesehatan hewan, yang pada masa itu (pertengahan abad ke-19 sampai awal abad ke-20) amat langka. Pada tahun 1851 tercatat hanya dua orang dokter hewan bangsa Belanda. Sementara berbagai penyakit menular berjangkit di Indonesia.

Melihat keadaan itu Pemerintah Penjajahan Hindia Belanda membuka sebuah sekolah dalam bidang kedokteran hewan di Surabaya pada tahun 1861 di pimpin oleh Dr, J, Van der Weide. Siswa yang diterima adalah para “bumi putera”, dengan lama pendidikan dua tahun. Namun ternyata upaya ini kurang berhasil, karena selama sembilan tahun hanya delapan orang “Dokter Hewan Bumi Putera” (Inlandsche Veearts) yang dihasilkan. Akhirnya sekolah itu ditutup pada tahun 1875.

Namun pendidikan dokter hewan dilanjutkan dalam bentuk lain, yaitu berupa magang pada “Dokter hewan Gubernemen” (Gouvernements Veearts= Dokter Hewan Pemerintah). Dalam periode 1875 – 1880 tercatat ada sembilan pemuda” bumi putera” yang magang pada tujuh orang dokter hewan Gubernemen, delapan orang di antaranya pada tahun 1880 diluluskan sebagai “Inlandsche Veearts”. Meskipun pengetahuan dan kemampuan para dokter hewan “ bumi putera” itu dinilai sangat memuaskan, namun pemerintah dalam hal ini Departemen Kepamongprajaan (Binnenlands Bestuur), berpendapat pendidikan dokter hewan perlu diselenggarakan secara intensif. Maka Direktur B.B lalu mengusulkan agar pendidikan dokter hewan ini diselenggarakan seperti halnya pendidikan “ Dokter bumiputera” (Inlandsche Geneeskundige ) pada STOVIA ( School tot Opleiding van Indische Artsen = Sekolah Dokter Djawa).

Bahkan diusulkan pula agar pendidikan dasarnya disatukan saja dengan STOVIA. Meskipun usul ini pada prinsipnya disetujui oleh Menteri Urusan Jajahan (Minister van Kolonien) pada pemerintah Kerajaan di Negeri Belanda, namun karena keberatan yang sangat dari Direktur Departemen Penjajahan, Keibadatan dan Kerajinan (Onderwijs, Eeredienst en Nijverheid) maupun dari Direktur STOVIA, usul tadi tidak jadi dilaksanakan.

Pada tahun 1907 didirikan Laboratorium Kedokteran Hewan atas usul Direktur Departemen Pertanian, Kerajinan dan Perdagangan (Landbouw, Nyverheid en Hande) Prof Dr. Melchior Treub yang digabungkan dengan Klinik Hewan dan kursus untuk mendidik dokter hewan bumi putera. Lama pendidikan 4 tahun dan siswanya lulusan dari HB S dan sekolah Pertanian Menengah (Middlebare Landbouw School).

Pada tahun 1910, kursus dokter hewan diubah menjadi Sekolah Dokter Hewan Bumi Putera (Inlandsche Veeartsen School) dan pada tahun 1919, sekolah tersebut dipisahkan dari Laboratorium, yang akhirnya pada tahun 1920, berdirilah Nederland Indische Veeartsen School (NIVS) yang semula untuk mendidik ahli tingkat menengah sebagai pembantu dokter hewan keluaran Utrecht. Dalam perkembangannya ternyata lulusan NIVS mampu menyamakan kualitasnya dengan lulusan Fakultas Kedokteran Hewan Utrecht. Pada umumnya lulusan NIVS ini dipraktek kerjakan sebagai Gouvernement Indi sche Veearts, yang antara lain ditugaskan :

1. Memajukan, memperbaiki dan melipatgandakan hewan ternak termasuk pula unggas.
2. Memberantas penyakit hewan menular dan mengatur ekspor dan impor ternak
3. Memajukan dan memelihara kesehatan temak .

Ada orang yang bekerja sebagai tenaga ahli (wetenschappehjk assist) pada "Veeartsen ljkundidig Insti tuut" (selanjutnya namanya Lembaga Pusat Penyakit Hewan) dan NIVS di Bogor.
Selain itu juga dapat dipekerjakan sebagai dokter Hewan daerah yang berpemerintahan sendiri (localle resoten; gemeenten dan regentschappen) dan tugasnya adalah menjalankan veterinair hygiene, yang antara lain meliputi:

1. pemeriksaan makanan untuk manusia berasal dari ternak
2. pengawasan perusahaan susu dan daging,
3. pengawasan perusahaan andong, dokar dan grobag,
4. pengawasan pasar hewan, ada beberapa dari mereka yang dibebani pula pabrik limun dan air soda serta perusahaan tahu.

Dokter hewan pemerintah diperbolehkan menjalankan praktik partikelir (swasta ) akan tetapi demi kepentingan dinas, praktik ini dapat dilarang. Sesudah bekaja selama 2 -5 tahun, banyak diantara mereka yang menjadi dokter hewan kepala daerah (ambtslringhoo/d) dengan tugas dan kewajiban yang sama dengan dokter hewan lulusan Utrecht. Setelah tahun 1920, wilayah kedokteran hewan (Veeartsenjkundige ambtskring) an di im in oleh lulusan NIVS mencapai sekitar 60%.

Pemegang ijasah NIVS dapat melanjutkan pelajarannya di Veeartsenijkundige Fakulteit di Utrecht dengan mendapat kebebasan ujian kandidat sehingga pelajaran dapat diselesaikan dalam waktu 3 tahun. Kesempatan ini digunakan oleh 10 orang.

Waktu penjajahan Jepang di Indonesia, Sekolah Dokter Hewan (NIVS) ditemskan dengan nama Zui Semon Gakko, kemudian pada jaman pemerintahan Indonesia diubah menjadi sekolah dokter hewan.
Pada awal jaman Kemerdekaan Republik Indonesia, maka atas usul kepala jawatan kehewanan RJ (R. Sutrisno) maka pada bulan maret 1946 Menteri Kemakmuran RI telah membentuk Panitia Pendirian Sekolah Dokter Hewan Tinggi, yang anggotanya terdiri dari :

1. Soeparwi, jabatan waktu itu Inspektur Jawatan Kehewanan Jawa Tengah merangkap Wakil Kepala Jawatan Kehewanan, sebagai ketua.
2. Samsoe Pocposoegondo, jabatan waktu itu Dokter Hewan Drv sebagai penulis.
3. Atmodipoero, jabatan waktu itu Inspektur SMP di Magelang sebagai anggota
4. Iso Reksohadiprojo, jabatan waktu itu Dirjen Kementrian Kemakmuran di Magelang sebagai anggota .
5. Soeparman Poerwosoedibjo, jabatan waktu itu Kepala perekonomian Kota prajaa Cirebon, sebagai anggota.
6. Djaenoedin, jabatan waktu itu Direktur Balai Penyelidikan Penyakit Hewan di Bogor, sebagai anggota.
7. Moh. Roza, jabatan waktu itu Dokter Hewan pada BPPH di Bogor, sebaga anggota.
8. Mohede, jabatan waktu itu Direktur Sekolah Dokter Hewan di Bogor, sebaga anggota.
9. Garnadi, jabatan waktu itu Guru Sekolah Dokter Hewan Bogor, sebagai anggota
10. Hoctanradi, jabatan waku itu Inspekur Jawatan Kehewanan di Jawa Timur. sebagai anggota.
11. Slamet, jabatan waktu itu Dokter Hewan Kotapradja Malang, sebagai anggota
Berdasarkan atas usul-usul panitia ini maka dengan surat keputusan Menteri Kemakmuran RI tanggal 20 september 1946 No. 1280/a/Per. Sekolah Dokter Hewan di Bogor telah diangkat menjadi Perguruan Tinggi Kedokteran Hewan (tanggal ini dipakai sebagai tanggal lahir FKH) dan diresmikan pada bulan November 1946.

Universitas Hasanuddin pun membuka Program Studi Kedokteran Hewan yang berada di bawah Fakultas Kedokteran. Ini adalah lembaga pendidikan kedokteran hewan ke-7 di Indonesia dan untuk pertama di kawasan timur

Sejarah kedokteran hewan di Unhas.

Tahun akademik 2010/2011, Universitas Hasanuddin membuka Program Studi Kedokteran Hewan yang berada di bawah Fakultas Kedokteran. Ini adalah lembaga pendidikan kedokteran hewan ke-7 di Indonesia dan untuk pertama di kawasan timur.Kepala Hubungan Masyarakat Universitas Hasanuddin, M Dahlan Abubakar mengatakan penerimaan mahasiswa kedokteran hewan ini akan dilakukan setelah pengumuman Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN), 17 Juli mendatang. “Kemungkinan akan dibuka satu kelas, sekitar 40 mahasiswa,” katanya.

Adapun sistem pembelajaran berpusat pada mahasiswa melalui kurikulum berbasis kompetensi. Guru Besar, Profesor Lucia Muslimin [senior nhe, ati2 kejam amat Orangnya :D tp Baik loe ], yang terlibat dalam pembukaan kedokteran hewan, berharap program studi ini mampu membantu meningkatkan kualitas kesehatan hewan dan zoonosis, pengembangan riset ilmu dan teknologi medis kehewanan, serta memperbesar peran alumni Kedokteran Universitas Hasanuddin dalam pengembangan Ipteks Medis One World One Health.
“Dengan meningkatnya penelitian dalam bidang medis kehewanan, bisa menanggulangi masalah-masalah kesehatan ternak,” kata Lucia.
Menurutnya, jumlah dokter hewan masih kurang, saat ini jumlahnya hanya 14.000 orang, sementara jumlah populasi ternak sekitar 28 juta. Artinya, setiap dokter harus melayani 2.000 ekor hewan, padahal idelanya satu dokter hanya merawat 70 ekor hewan. as/tn

Fakultas kedokteran universitas hasanuddin untuk pertama kalinya menerima 77 mahasiswa baru untuk program studi kedokteran hewan dengan ketua program studi Prof. Dr. dr. Lucia Muslimin, Msc. yang baru dibuka tahun ajaran 2010.

Bertempat di gedung Auditorium A.A.Amiruddin, 01 Oktober 2010 , Dekan fakultas kedokteran universitas hasanuddin, Prof. dr. Irawan Yusuf,Ph.D ,secara simbolik menyaksikan penandatanganan akta mahasiswa baru dan menyandangkan jas almamater universitas hasanuddin secara resmi menerima diawalinya kegiatan perkuliahan program studi kedokteran hewan di fakultas kedokteran universitas hasanuddin.
Berkomentar dengan
atau
Follow @KlubCintaBuku

0 your comment:

Poskan Komentar

Silahkan beri komentar dengan sopan untuk pertanyaan silahkan via akun twittew @KlubCintaBuku

Kotak Pencarian Ebook

Memuat...